Kabila Bone – Akselerasi transformasi digital di tingkat desa kembali menorehkan cerita sukses. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak dari Program Studi Sistem Informasi, Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Gorontalo (UNG), resmi meluncurkan platform Prodigdes (Profil Digital Desa) di Desa Botutonuo, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango.
Mereka para mahasiswa tersebut, yakni Dhimaz Pramudya LC Lasabang, Fahmi Hainunisa, Fauzia Nur’Aini Kuku, Galang Khairi Imawan Tolinggi, Moh Putra Ramadhan Abdullah, Mohamad Safwan Ahmad, Muhammad Khairul Azhari Ali, Nurkesya, Nurul Nazma S. Kaluku, Rahmawaty Polinggapo, Ratna Panigoro, Rizqi Firmansya Tamimu, dan Teguh Dwi Saputro.
Mengusung visi “Menuju Desa Digital, Desa dalam Satu Genggaman,” platform inovatif ini hadir sebagai jawaban atas tantangan tata kelola data desa modern. Kehadiran Prodigdes diproyeksikan mampu menciptakan keterbukaan informasi yang transparan, efisien, dan mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
Koordinator Desa KKN Berdampak UNG, Moh. Putra Ramadhan Abdullah, menjelaskan bahwa Prodigdes dirancang melampaui fungsi profil digital biasa. Platform ini mengintegrasikan pusat informasi dan layanan berbasis digital untuk mendukung penuh roda pemerintahan desa.
“Platform ini dilengkapi berbagai fitur strategis, mulai dari transparansi anggaran desa melalui publikasi data APBDes, informasi penyaluran bantuan sosial, integrasi data penduduk, hingga galeri kegiatan desa dan promosi potensi lokal,”ujar Putra Ramadhan saat ditemui di Kantor Desa Botutonuo, Jumat (22/5/2026).

Tidak hanya urusan administrasi, kata Putra Ramadhan, Prodigdes juga menjadi etalase digital bagi sektor pariwisata unggulan dan UMKM khas Desa Botutonuo.”Melalui fitur ini, potensi pesisir dan produk lokal diharapkan dapat menjangkau pasar yang jauh lebih luas,”jelas Putra Ramadhan.
Sementara itu, Kepala Desa Botutonuo, Nuzzul Abdul Radjak, menyampaikan apresiasi mendalam dan rasa terima kasih yang setinggi-tingginya atas dedikasi dan inovasi yang dihadirkan oleh tim KKN Berdampak UNG.
Menurutnya, selama ini potensi besar Desa Botutonuo, termasuk destinasi andalan Wisata Pantai Botutonuo yang dikelola mandiri oleh warga belum terpublikasi secara optimal dan terintegrasi.
“Kehadiran sistem informasi ini merupakan sebuah langkah maju yang konkret bagi desa kami menuju Desa Digital. Platform ini tidak hanya mempermudah pelayanan administrasi internal desa agar lebih cepat dan efisien, tetapi juga menjadi jendela informasi bagi dunia luar,”ungkap Nuzzul.
“Kini, profil desa, transparansi program, serta keindahan pesisir dan UMKM masyarakat pesisir Botutonuo dapat diakses oleh siapapun, kapanpun, dan di manapun. Sistem informasi ini sangat mudah digunakan, informatif, dan tepat sasaran,”tambahnya.
Sadar bahwa keberlanjutan teknologi bertumpu pada sumber daya manusia, tim KKN UNG tidak sekadar menyerahkan aplikasi. Mereka telah membekali perangkat desa melalui pelatihan khusus admin desa.
Pelatihan teknis ini bertujuan agar aparat desa mandiri dalam mengelola konten, memperbarui data, serta mengoperasikan platform Prodigdes secara berkelanjutan setelah masa KKN berakhir. Pemerintah Desa Botutonuo pun telah menyatakan komitmen penuh untuk terus menjaga dan mengembangkan sistem ini.
Sinergi apik antara akademisi UNG dan Pemerintah Desa Botutonuo ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam mendongkrak daya saing daerah di era digital, sekaligus menjadi role model (percontohan) sukses bagi pengembangan desa digital lainnya di wilayah Kabupaten Bone Bolango.
Hal senada juga diutarakan Sekretaris Kecamatan Kabila Bone, Zulkarnain Antuke. Ia memberikan apresiasi atas inovasi yang dihadirkan mahasiswa KKN Berdampak UNG tersebut. Zulkarnain menyampaikan gagasan strategis agar platform Prodigdes ke depannya dapat terintegrasi dengan sistem digital yang dikembangkan di desa lain.
Menurutnya, integrasi tersebut dapat menciptakan pusat data terpadu tingkat kecamatan yang memuat potensi UMKM, pariwisata, dan profil desa secara menyeluruh.
“Ini adalah inovasi yang luar biasa. Harapannya, sistem ini bisa menjadi pilot project yang diterapkan di desa lainnya di Kecamatan Kabila Bone sehingga seluruh potensi wilayah dapat terintegrasi dalam satu pusat data di tingkat kecamatan,”tutup Zulkarnain. (Tim Redaksi)














