Tilongkabila, Berita – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappeda Litbang) Bone Bolango mendorong agar kekuatan pariwisata, perikanan, pertanian, dan UMKM di Kecamatan Kabila Bone terhubung hingga menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat.
Kepala Bappeda Litbang Bone Bolango, Sri Mulyani Lalijo, mengatakan pengembangan kawasan perdesaan Kabila Bone harus bergeser dari sekadar menjalankan program menjadi upaya menghasilkan dampak yang bisa dirasakan masyarakat.
Menurutnya, Kabila Bone memiliki modal ekonomi yang besar. Kawasan ini memiliki 1.362 pelaku UMKM, potensi perikanan di TPI Inengo, komoditas pertanian seperti pisang dan cabai rawit, serta destinasi wisata bahari seperti Botubarani dan Taman Laut Olele yang telah menarik lebih dari 110 ribu wisatawan domestik maupun mancanegara.
Namun, besarnya potensi tersebut belum otomatis membuat manfaat ekonominya dirasakan secara maksimal oleh masyarakat.
“Bukan kekurangan potensi, tapi kekurangan orkestrasi,” kata Sri Mulyani pada Sosialisasi Rencana Pembangunan Kawasan Perdesaan yang dihadiri jajaran OPD dan unsur terkait di Naffil Cafe dan Resto, Jumat (2/10/2026)
Dirinya menjelaskan, selama ini berbagai potensi dan program masih cenderung berjalan sendiri-sendiri. Karena itu, Bappeda mendorong perubahan pola dari pembangunan yang parsial di masing-masing desa menjadi pembangunan kawasan yang saling terhubung.
Targetnya bukan sekadar membuat objek wisata semakin ramai atau produksi masyarakat semakin banyak, tetapi bagaimana aktivitas tersebut menciptakan rantai ekonomi dari hulu hingga hilir.
Wisatawan yang datang ke Botubarani atau Olele, misalnya, diharapkan tidak hanya menjadi angka kunjungan. Kehadiran mereka harus membuka ruang bagi UMKM untuk menjual produk lokal, nelayan memperoleh pasar yang lebih luas, pelaku usaha kuliner berkembang, hingga masyarakat memperoleh peluang usaha baru.
Begitu pula sektor pertanian dan perikanan. Produk masyarakat tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi diarahkan masuk ke proses pengolahan, pengemasan, pemasaran dan distribusi sehingga nilai ekonominya meningkat.
Untuk mewujudkan itu, Bappeda menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari pemetaan potensi sembilan desa, penguatan Tourism Information Centre (TIC), pendampingan UMKM, sertifikasi dan pengembangan kemasan, hingga memperkuat BKAD dan BUMDesma sebagai agregator ekonomi kawasan.
Akses pasar juga menjadi bagian penting. Produk lokal akan diarahkan masuk ke katalog produk, business matching, pemasaran digital, hingga membuka peluang kerja sama dengan hotel, restoran, pasar modern dan pelaku industri pariwisata.
Sri Mulyani menilai pola tersebut penting agar pertumbuhan ekonomi tidak berhenti pada angka, tetapi bergerak menjadi aktivitas ekonomi yang lebih luas di tingkat masyarakat.
Kabila Bone sendiri dipilih sebagai kawasan awal karena memiliki kombinasi potensi yang relatif lengkap, mulai dari laut, perikanan, pertanian, pariwisata hingga UMKM. Jika pola tersebut berhasil dibangun, kawasan ini diharapkan dapat menjadi model yang nantinya dikembangkan di wilayah lain di Bone Bolango.
“Dengan pendekatan itu, pembangunan kawasan perdesaan tidak lagi sekadar soal membangun infrastruktur atau menjalankan program sektoral. Ukuran keberhasilannya diarahkan pada seberapa besar potensi kawasan mampu menciptakan usaha, memperluas pasar, meningkatkan nilai tambah dan pada akhirnya memperkuat pendapatan masyarakat,” tutupnya. (Tim Redaksi)














