Tilongkabila, Berita – Kecamatan Kabila Bone diproyeksikan menjadi model awal pembangunan kawasan perdesaan di Kabupaten Bone Bolango. Kecamatan yang memiliki sembilan desa itu dipilih untuk menguji pola pembangunan berbasis potensi kawasan sebelum pendekatan serupa dikembangkan ke kecamatan lainnya.
Gagasan tersebut disampaikan Bupati Bone Bolango Ismet Mile didampingi Sekda Bone Bolango Iwan Mustapa, Ketua TP PKK Bone Bolango Ruwaida Ismet Mile, Kepala Bappeda Litbang Sri Mulyani Lalijo saat membuka Sosialisasi Rencana Pembangunan Kawasan Perdesaan yang dihadiri jajaran OPD dan unsur terkait. di Naffil Cafe dan Resto, Jumat (2/10/2026).
Bupati Ismet Mile menilai Kabila Bone memiliki modal potensi yang kuat, terutama dari sektor pariwisata, sehingga layak menjadi titik awal untuk mendorong percepatan pembangunan kawasan.
Ismet Mile mengatakan pembangunan kawasan perdesaan tidak ingin dilakukan dengan pola yang sama rata, tetapi dimulai dari wilayah yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Kabila Bone, menurutnya, memiliki sejumlah destinasi wisata yang dapat menjadi penggerak pertumbuhan kawasan.
“Ini satu model pembangunan kawasan perdesaan itu sebagai model utama kita membangun. Kita mulai dari kecamatan yang punya potensi,” kata Ismet.
Ia menyebut keberadaan potensi pariwisata seperti Olele dan kawasan wisata lainnya menjadi salah satu kekuatan yang dapat dikembangkan secara lebih terintegrasi. Potensi tersebut diharapkan tidak berdiri sendiri, tetapi mampu mendorong aktivitas ekonomi dan membuka ruang lebih besar bagi masyarakat serta dunia usaha.
Karena itu, pembangunan Kabila Bone diarahkan sebagai sebuah model. Ketika pola tersebut berhasil dibangun, pendekatan yang sama dapat menjadi acuan dalam mengembangkan kawasan di kecamatan lainnya di Bone Bolango.
“Ini bagaimana terobosan-terobosan yang hendak kita lakukan dalam upaya melakukan perubahan, peningkatan dan mendorong terciptanya daerah ini menjadi daerah yang potensial,” ujarnya.
Menurut Ismet, pembangunan kawasan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Karena itu, ia meminta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) dan pejabat yang hadir tidak sekadar mengikuti sosialisasi, tetapi ikut memberikan pandangan berdasarkan pengalaman dan keilmuan yang dimiliki.
Masukan dari para birokrat, kata dia, penting untuk menyempurnakan konsep pembangunan kawasan sehingga model yang dibangun di Kabila Bone benar-benar dapat diterapkan dan memberi dampak bagi masyarakat.
Ismet juga menekankan pentingnya keterlibatan dunia usaha. Ia ingin pembangunan kawasan tidak hanya bertumpu pada kemampuan anggaran pemerintah melalui APBD dan APBN, tetapi juga membuka ruang bagi investasi dan aktivitas industri.
“Kalau daerah ini tidak memiliki predikat sebagai daerah industri, maka kita bukan siapa-siapa,” tegasnya.
Karena itu, ia mendorong partisipasi para pengusaha, terutama pelaku usaha yang berada di daerah, untuk ikut mengambil bagian dalam pengembangan kawasan Kabila Bone. (Tim Redaksi)













